Tata Bahasa Jepang: Menyatakan “A adalah B” dan Fungsi Partikel Wa (は) [Bagian 1]

Ini adalah pembahasan kedua (sebelumnya: Mengenal Sistem Tulisan Jepang) dan pembahasan pertama mengenai tata bahasa Jepang. Kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara mengungkapkan ‘saya adalah seorang pelajar’ atau secara lebih luas kita sebut sebagai A adalah B, dimana A dan B nya adalah kata benda.


Kalimat Bentuk Positif

A wa B desu (A は B です)

 

Kanji: 私は学生です
Hiragana: わたしはがくせいです
Romaji: Watashi wa gakusei desu
Arti: Saya adalah seorang pelajar
あなたはにほんじんです
Anata wa nihon-jin desu
Kamu adalah orang Jepang
わたしたちはインドネシアじんです
Watashi-tachi wa Indoneshia-jin desu
Kami adalah orang indonesia

Wa (は) adalah partikel yang berfungsi sebagai penanda subjek, sehingga kata yang ditulis sebelum wa akan menjadi subjek dari kalimat tersebut. Walaupun hiragananya ha (は), tapi selalu dibaca wa. Ini khusus untuk huruf ha yang digunakan sebagai partikel.

Lalu apa itu desu? Desu (dibaca ‘des’) adalah kopula (pada Bahasa Inggris contohnya: is, am, are, dkk.) yang selalu digunakan dalam situasi formal dan berada di akhir kalimat. Fungsinya adalah sebagai kata kerja semu, digunakan ketika suatu kalimat tidak memiliki kata kerja. Contohnya dalam kalimat ‘Saya adalah seorang pelajar’. Karena selau berada di akhir kalimat, desu bisa disamakan posisinya sebagai tanda baca titik.

Tahukah kalian, bahwa:

  • Pada dasarnya Bahasa Jepang tidak mengenal tanda baca dan spasi.
  • Pola kalimat Bahasa Jepang adalah S-O-P.
  • Suatu kalimat harus memiliki kata kerja.
  • Kata kerja selalu di akhir kalimat.
  • Desu juga merupakan kata kerja (kata kerja semu).

Setelah mengetahui pola kalimat positif, sekarang kita akan mempelajari kalimat bentuk negatif, kalimat tanya, dan kalimat tanya negatif.


Kalimat Negatif

A wa B dewa arimasen (A は B では ありません)

 

わたしはがくせいではありません
Watashi wa gakusei dewa arimasen
Saya bukan seorang pelajar
あなたはにほんじんではありません
Anata wa nihon-jin dewa arimasen
Kamu bukan orang Jepang

Dalam Bahasa Jepang, kita dapat mengetahui suatu kalimat merupakan kalimat negatif atau tidak adalah dari akhir kalimatnya. Jika di akhir kalimat berupa bunyi ‘sen’ atau ‘nai’, dipastikan kalimat tersebut adalah kalimat negatif.

Untuk mengubah ke bentuk kalimat negatif kita hanya perlu mengubah akhiran kata kerjanya saja, dalam hal ini adalah desu yang diubah menjadi dewa arimasen.


Kalimat Tanya

A wa B desu ka? (A は B です か)

 

いのりはがくせいですか
Inori wa gakusei desu ka
Apakah Inori seorang pelajar?
あなたたちはにほんじんですか
Anata-tachi wa nihon-jin desu ka
Apakah kalian orang Jepang?

Sama seperti kalimat negatif, yang kita perhatikan hanya akhir kalimatnya saja. Untuk membentuk kalimat negatif kita hanya perlu menambahkan partikel ka di akhir kalimat. Hanya itu.

Untuk menjawab kalimat semacam itu, kita bisa mengatakan:

はい、そうです
Hai, sou desu
Ya, betul

Atau, jika bukan:

いいえ、そうではありません
Iie, sou dewa arimasen
Tidak, bukan

Kalimat Tanya Negatif

A wa B dewa arimasen ka? (A は B ではありませんか)

 

いのりはがくせいではありませんか
Inori wa gakusei dewa arimasen ka
Bukankah Inori seorang pelajar?
あなたたちはにほんじんではありませんか
Anata-tachi wa Nihon-jin dewa arimasen ka
Bukankah kalian orang Jepang?

Tambahkan dewa arimasen ka di akhir kalimat. Ingat, partikel ka ditulis setelah dewa arimasen.

 
 

Sekarang mari kita bicarakan ragam kata informal dalam Bahasa Jepang.
Terdapat variasi lain untuk menyangkal kalimat / membentuk kalimat negatif, yaitu jya nai atau dewa nai. Caranya adalah ganti dewa arimasen menjadi jya nai atau dewa nai. Contohnya:

いのりわがくせいじゃない
Inori wa gakusei jya nai
Inori bukan seorang pelajar
あなたたちわにほんじんでわない
Anata-tachi wa nihon-jin dewa nai
Kalian bukan orang Jepang

Kalian bisa menambahkan desu di akhir dua kalimat di atas untuk meningkatkan kesopanan. Tapi, masih jauh lebih sopan jika kalian menggunakan ragam kata formal.

Mungkin ada yang bertanya, “Lho, gw pernah mendengar kalimat tanya yang berakhiran ‘no’. Itu gimana ceritanya?”. Memang benar, pada situasi informal terkadang partikel no juga digunakan untuk mengakhiri kalimat tanya dan menggantikan partikel ka. FYI, Bahasa Jepang merupakan bahasa yang paling kontekstual yang pernah saya tahu. Ada banyak cara untuk mengungkapkan suatu hal. Juga, terkadang arti per kata bisa sangat berbeda dengan makna kalimatnya. Khususnya pada pembicaraan informal / sehari-hari. Jadi kita harus memperhatikan konteks pembicaraannya seperti apa.

Oke, sampai disini dulu pembahasan kali ini. Silahkan berkomentar jika ada yang ingin ditanyakan atau mengoreksi jika ada yang salah. Thanks!

Pembahasan selanjutnya: Tata Bahasa Jepang: Partikel Wa dan Menyatakan “A adalah B” (Bagian 2)


Tinggalkan Balasan